Kamis, 19 Maret 2015

Seputar Eksposur (Exposure) dalam Fotografi



Fotografer kenamaan, Bryan Peterson, telah menulis sebuah buku berjudul Understanding Exposure yang didalamnya diterangkan konsep eskposur secara mudah. Peterson memberi ilustrasi tentang tiga elemen yang harus diketahui untuk memahami eksposur, dia menamai hubungan ketiganya sebagai sebuah Segitiga Fotografi. Setiap elemen dalam segitiga fotografi ini berhubungan dengan cahaya, bagaimana cahaya masuk dan berinteraksi dengan kamera.

  1. ISO : ukuran seberapa sensitif sensor kamera terhadap cahaya
  2. Aperture : seberapa besar lensa terbuka saat foto diambil
  3. Shutter Speed : rentang waktu “jendela’ didepan sensor kamera terbuka

Interaksi ketiga elemen inilah yang disebut eksposur.  Perubahan dalam salah satu elemen akan mengakibatkan perubahan dalam elemen lainnya. 

Faktor Kunci Eksposur
 Ada beberapa hal yang dapat berpengaruh mengendalikan eksposur. Supaya mudah memahami tentang hal-hal ini yang saling terkait, coba bayangkan saat mengisi air ke dalam gelas.

https://kelasfotografi.files.wordpress.com/2013/08/ilustrasi-mengenai-exposure-dalam-fotografi.jpg
 
Kecepatan Rana (Shutter Speed)
Ibarat lamanya waktu yang diperlukan untuk membuka keran air. Ia terkait langsung dengan besaran bukaan rana. Semakin besar keran yang dibuka, semakin sedikit waktu yang diperlukan untuk membuat gelas penuh.

Bukaan rana (Aperture)
Bayangkan aperture sebagai seberapa banyak putaran keran yang dibutuhkan untuk mengeluarkan air. Semua tergantung kita, apakah ingin bukaan kecil untuk aliran air sedikit, atau besar supaya gelas cepat penuh.

Setelan ISO
ISO diibaratkan seperti ukuran gelas. Gelas kecil (dengan nilai iso tinggi) akan cepat penuh dibandingkan gelas ukuran besar (nilai iso rendah).

Intensitas cahaya
Ini bisa dianalogikan sebagai tekanan air di pipa. Jika tekanan tinggi, kita tidak perlu memutar keran terlalu banyak untuk memenuhi gelas. Begitu sebaliknya!

TIPS
Masalah eksposure bukanlah masalah kaku ataupun masalah sains, tapi juga terkait selera. Sama seperti analogi seberapa penuh gelas yang ingin kita isi.

Seputar Shutter Speed dalam Fotografi


Pengertian
Jika Apperture mengatur jumlah (kuantitas) cahaya yang masuk ke kamera,  maka shutter speed berapa lama cahaya masuk ke kamera. Keduanya digunakan untuk mengontrol pencahayaan.
http://static1.squarespace.com/static/51cdbb90e4b0c246ca8982e6/t/52404ef5e4b031cd845d0444/1379946230598/ShutterSpeed+pic.jpg

Penggunaan
Kecepatan rana perlu diperhatikan terutama untuk memotret objek yang bergerak cepat. Maka untuk membekukannya diperlukan kecepatan rana yang tinggi, 
https://weddingkumagazine.files.wordpress.com/2012/03/high-speed-photography2.jpg
namun kecepatan rana rendah juga digunakan untuk mendapatkan efek buram dari objek yang bergerak
http://www.2expertsdesign.com/wp-content/uploads/2011/06/slowshutterphotos1.jpg


TIPS
"Makin lama rana dibuka, makin banyak cahaya dari objek ditangkap kamera, makin lama waktu yang dibutuhkan untuk mengolah gambar. Makin cepat rana dibuka, makin sedikit cahaya dari objek yang ditangkap, makin sedikit waktu yang dibutuhkan untuk mengolah gambar."

Seputar Aperture dalam Fotografi


Pengertian
Aperture berfungsi untuk mengatur jumlah cahaya yang lewat di lensa. Aperture juga berpengaruh terhadap apa yang disebut dengan "depth of field" atau ruang ketajaman, dimana objek utama akan terlihat lebih tajam sementara objek lain di bagian latar akan terlihat buram.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgpmS9EQPMbnzhYoFCVHKrpnkyGao2n9EVXaFLNVPqIZh81C6WIxmOzWPdVPoYiJirA88_tAECbdnavDRq6OrXQGegVpwWpcqUvlzjwEPHwE2SJkFimuOsyJU_wMLLxnbcm-lXznagTsaI/s1600/aperture_scale.jpg

Depth of Field
Penggunaan aperture yang besar berpengaruh pada apa yang disebut dengan "Depth of Field" atau ruang ketajaman, dimana objek utama akan terlihat paling tajam sementara objek lain di bagian latar akan terlihat buram. Pengguna bisa mendapatkan efek ini jika menggunakan aperture besar, atau meningkatkan kedalaman ruang tajam dengan mengecilkan aperture sehingga objek lain terlihat lebih tajam.


TIPS
Besaran aperture yang dipilih adalah aktor utama untuk menetukan seberapa banyak area yang akan terlihat tajam. Makin kecil aperture dibuka (nilai f semakin besar) makin banyak area yang terlihat tajam. Semakin besar aperture maka ruang tajam semakin sempit dan objek utama akan terlihat lebih tajam. Semakin kecil aperture maka ruang tajam semakin besar dan objek lain di bagian latar akan semakin tampak.





Seputar Exposure Value (EV) dalam Fotografi


Pengertian
Sederhananya, EV berfungsi membuat foto menjadi lebih gelap atau lebih terang dari metering normalnya. Karena terkadang foto yang didapatkan tidak sesuai dengan keinginan kita, entah terlalu terang (over exposure) atau terlalu gelap (under exposure). Dengan merubah nilai exposure ke arah positif, kita menginformasikan kepada kamera untuk memasukkan lebih banyak cahaya (sehingga foto akan lebih terang); sementara dengan merubah ke arah negatif, kita meminta untuk mengurangi jumlah cahaya yang masuk ke dalam kamera (supaya foto lebih gelap).


TIPS
Kapan perlu merubah nilai Ev ke arah positif? Utamanya adalah saat terjadi backlight, dimana objek relatif lebih gelap dibanding background. Metering standar akan tertipu oleh terangnya background dan membuat objek foto jadi gelap. Bila ada orang yang difoto dengan background yang terang, gunakan kompensasi ke arah positif sehingga wajah si objek tidak gelap.


Seputar ISO dalam Fotografi

Pengertian
Secara definisi ISO adalah ukuran tingkat sensifitas sensor kamera terhadap cahaya. Semakin tinggi setting ISO kita maka semakin sensitif sensor terhadap cahaya. Contoh sederhana ada yang mengibaratkan ISO sebagai sebuah komunitas lebah dan cahaya sebagai madu; ISO 200 tentu lebih cepat dan lebih banyak dalam mengumpulkan madu (cahaya) dibandingkan ISO 100.

 pengertian-ISO-fotografi
Kapan diperlukan?
  • Pengaturan ISO diperlukan ketika cahaya terlampau redup dan pengguna tidak menggunakan tripod. Terutama untuk fotografi dalam ruangan dan malam hari yang memerlukan (memperlama) bukaan shutter kamera untuk menyerap lebih banyak cahaya. Maka tingkatkan ISO untuk menambah sensitivitas sensor sehingga mempercepat waktu bukaan shutter dan mencegah agar gambar tidak buram akibat guncangan kamera.
  • ISO tinggi berguna untuk kamera yang dipegang tangan untuk menghindari gambar yang blur, namun bila menggunakan tripod maka pengguna tidak membutuhkan ISO tinggi.
  • Pada umumnya, fotografer banyak menggunakan ISO se-rendah mungkin, tujuannya untuk menghindari adanya "noise" yang mengganggu dan supaya mendapatkan foto yang tajam. Terutama untuk foto yang akan dicetak dalam ukuran besar.

Tips
"Semakin rendah ISO, maka sensitivitas akan rendah sehingga noise juga akan rendah.
Semakin tinggi ISO, maka sensitivitas akan tingi sehingga noise juga akan tinggi."

Senin, 16 Maret 2015

Seputar modus P, A, S, & M kamera DSLR


http://mypixworld.net/wp-content/uploads/2014/08/DSLR-PASM-modes-of-camera.jpgP (Program AE)
Kamera akan mengatur otomatis kecepatan shutter dan aperture. Sehingga kita bisa mengatur ISO, EV, Picture Control. Modus ini adalah sederhana dan simple, serta cocok untuk objek yang ditemukan sehari-hari.

A (Aperture Priority)
Pengguna menentukan bukaan aperture lensa, sedangkan kecepatan shutter ditentukan kamera secara otomatis. Modus ini digunakan untuk mengatur ruang tajam.

S (Shutter Priority)
Pengguna menentukan kecepatan shutter, sedangkan aperture lensa ditentukan oleh kamera secara otomatis. Modus ini ideal untuk menangkap gambar dari objek yang bergerak.

M (Manual)
Pengguna menentukan kecepatan shutter dan aperture. Modus ini cocok untuk pencahayaan yang rumit. Pengguna harus mengelola eksposur secara tepat.